Jumat, 01 Maret 2013

SIFAT ISTRI YANG DIBENCI SUAMI



    Kunci utama rumah tangga bahagia ialah adanya saling cinta dan kasih sayang antara suami dan istri.  Sang suami akan menghargai dan memberikan segenap cinta dan kasih sayang kepada istrinya, jika kaum wanita pun memberikan cinta dan penghargaan kepada suaminya. Demikian pula sebaliknya. Agar istri tidak kehilangan rasa cinta dan rasa hormat dari suaminya, maka seorang istri harus mengetahui dan menjauhi sifat-sifat wanita yang dibenci suami. Dan diantara sifat-sifat yang dibenci suami,diantaranya ialah:
1.       Istri yang suka berdusta
Salah satu hal yang mesti dimiliki dalam hubungan pernikahan ialah unsur kejujuran dalam segala hal. Karena kejujuran merupakan salah satu jalan menuju ketenteraman dan kebahagiaan. Di luar sana terdapat banyak wanita yang gemar berdusta. Mereka menjadikan dusta sebagai hobi atau sebagai dalih karena takut terhadap sesuatu. Namun apa pun alasannya, dusta dan tipu daya merupakan 2 hal yang paling dibenci kaum pria. Meskipun terkadang seorang pria menerima tindakan dusta yang dilakukan istrinya karena satu atau lain hal, namun penerimaan seorang suami terhadap sifat buruk itu biasanya disertai dengan pandangan  yang bersifat meremehkan.
2.       Istri yang selalu mencurigai
Perasaan selalu dicurigai dan tidak pernah dipercaya tentu akan membuat suami merasa tidak nyaman. Apalagi bila istri mencurigai suminya telah melakukan sesuatu yang tidak jujur di belakang Misalnya mencurigainya telah berselingkuh, padahal belum tentu kebenarannya.
3.       Istri yang tidak bisa menghargai suami
Banyak istri yang berperilaku sepertinya tak lagi menghargai suaminya lagi. Penyebabnya tentu banyak dan bervariasi. Ada yang disebabkan posisi suami yang memang jauh di bawah istri, dari segi latar belakang sosial,baik finansial maupun karier. Atau penampilan istri yang lebih menarik dibandingankan suami. Hal-hal inilah yang seringkali membuat istri menjadi sombong atau arogan. Di matanya, suami hanyalah pelengkap status. Akibatnya, suami merasa minder dan tak dihargai, dan istri pun bersikap semena-mena kepadanya.
4.       Istri yang sibuk dengan dirinya sendiri
Istri yang seperti ini biasanya menjauhi segala urusan suaminya, dan lebih mementingkan urusan serta kegemaran dirinya sendiri. Pada dasarnya, istri seperti ini akan merasa nyaman setiap kali dia bisa menyendiri, serta bisa menjaga segala apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia sentuh untuk dirinya sendiri. Boleh jadi hal ini merupakan akibat adanya penyakit psikis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
5.       Istri yang bersikap pasif
Istri yang semacam ini akan membiarkan dan menyerahkan segala urusan kepada suaminya, sehingga suaminya yang menjalankan seluruh urusan keluarga dan rumah tangga. Peran istri hanya terbatas menjalankan instruksi-instruksi dari suaminya. Dia senantiasa menyerah dalam segala hal, seakan-akan dia menuntut suaminya agar lebih berkuasa dengan tanpa berusaha menunjukkan perannya atau keberadaannya sedikit pun terhadap suaminya, padalah dia merupakan pasangan hidup bagi suaminya.

CARA MEMBAHAGIAKAN SUAMI



   Rumahku Surgaku. Itulah suatu harapan yang ada dalam sebuah pernikahan. Memang, tidaklah mudah untuk mewujudkan harapan tersebut, dan bisa-bisa rumahku menjadi nerakaku. Maka dari itu, dibutuhkan kerjasama yang harmonis diantara suami dan istri ketika mengarungi bahtera pernikahan. Selain itu, dibutuhkan juga pemahaman mengenai cara memelihara pernikahan agar tetap harmonis dan tahan terhadap badai ujian. Rasulullah SAW bersabda : “ Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”
   Setiap istri pastilah menghendaki kebahagiaan dalam rumah tangganya. Maka dari itu, timbullah sebuah kewajiban bagi mereka, yaitu tidak hanya melulu menuntut dibahagiakan, tapi juga harus mengerti dan mau belajar tentang bagaimana cara membahagiakan. Dan berikut cara-cara yang bisa dilakukan untuk membahagiakan suami, diantaranya ialah:
1.       Istri bagaikan sekuntum mawar yang sedang bersinar. Buatlah disaat suami masuk ke rumah, dia merasa bahwa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain hanyalah untuknya seorang.
2.      Menjadi sebaik-baiknya perhiasan bagi suami. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang isteri yang sholihah. Beliau menjawab: Apabila diperintah, ia selalu taat, apabila dipandang ia menyenangkan, dan ia selalu menjaga diri serta harta suami (manakala suaminya tidak ada)” (HR. Nasa`i). Disinilah keistimewaan seorang wanita ketika menjadi seorang istri, dia kelihatan begitu indah dan cantik ketika tidak menjadi seorang yang kasar dan pembangkang namun yang pandai belajar untuk selalu menata hatinya dan taat kepada suami.
3.  Lembut dan pelankanlah suara seorang istri ketika berbicara dengan sang suami dan jangan sampai suara seorang istri lebih tinggi ketika bersama suami.
4.   Bersikaplah diam ketika seorang suami sedang marah dan jangan tidur kecuali dia mengijinkannya.
5.      Jadilah istri yang indah dari sebuah keikhlasan.  Ini bukan sesuatu yang mudah dalam mendidik diri kita untuk selalu menjadi seorang pribadi pengabdi. Perlu kesadaran lebih terutama dalam mengalahkan ego sebagai wanita. Dan seberapapun besar kesulitan itu, semua akan bisa di raih jika para istri benar- benar mau belajar mengikhlaskan pengabdiannya kepada suami hanya karena Allah saja.
6.    Jangan pernah anggap diri kita sebagai pelayan ketika melayani suami. Melayani bukan berarti kita menjadi pribadi nomer 2 yang harus tunduk dan patuh dalam perintah seorang suami. Namun dengan melayani justru akan membuat kita merasa jadi pribadi yang selalu dibutuhkan dan kehadiran kita akan menjadi suatu hal yang sangat ditunggu- tunggu karena menjadi penopang wajib dari yang dilayani. Itulah makna sebenarnya dari kata disayang atau dicintai.
7.   Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru untuk suami, janganlah beranjak tidur lebih dulu dari sang suami, kecuali kalau dirasa sangat perlu.
8.  Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya seorang istri tidak menunggu agar sang suami meminta ma’af terlebih dahulu (jangan jadikan hal ini sebagai prioritas utama harapan istri) kecuali jika suami secara sadar mengakui kesalahannya.