Rumahku Surgaku. Itulah suatu harapan yang ada dalam sebuah
pernikahan. Memang, tidaklah mudah untuk
mewujudkan harapan tersebut, dan bisa-bisa
rumahku menjadi nerakaku. Maka dari itu, dibutuhkan
kerjasama yang harmonis diantara suami dan istri ketika mengarungi bahtera
pernikahan. Selain itu, dibutuhkan juga pemahaman mengenai cara memelihara pernikahan agar tetap harmonis
dan tahan terhadap badai ujian. Rasulullah
SAW bersabda : “
Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap
istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap
istri-istriku.”
Setiap istri pastilah menghendaki kebahagiaan
dalam rumah tangganya. Maka dari itu, timbullah sebuah kewajiban bagi mereka,
yaitu tidak hanya melulu menuntut dibahagiakan, tapi juga harus mengerti dan
mau belajar tentang bagaimana cara membahagiakan. Dan berikut cara-cara yang bisa dilakukan untuk membahagiakan suami, diantaranya ialah:
1.
Istri bagaikan sekuntum
mawar yang sedang bersinar. Buatlah disaat suami masuk ke rumah, dia merasa
bahwa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain
hanyalah untuknya seorang.
2. Menjadi sebaik-baiknya
perhiasan bagi suami. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang isteri yang sholihah. Beliau
menjawab: Apabila diperintah, ia selalu taat, apabila dipandang ia
menyenangkan, dan ia selalu menjaga diri serta harta suami (manakala suaminya
tidak ada)” (HR. Nasa`i). Disinilah keistimewaan
seorang wanita ketika menjadi seorang istri, dia kelihatan begitu indah dan
cantik ketika tidak menjadi seorang yang kasar dan pembangkang namun yang
pandai belajar untuk selalu menata hatinya dan taat kepada suami.
3. Lembut dan pelankanlah suara seorang istri ketika berbicara dengan sang suami dan jangan sampai suara seorang istri lebih
tinggi ketika bersama suami.
4. Bersikaplah diam ketika seorang suami sedang
marah dan jangan tidur kecuali dia mengijinkannya.
5. Jadilah istri yang indah
dari sebuah keikhlasan. Ini bukan
sesuatu yang mudah dalam mendidik diri kita untuk selalu menjadi seorang
pribadi pengabdi. Perlu kesadaran lebih terutama
dalam mengalahkan ego sebagai wanita. Dan
seberapapun besar kesulitan itu, semua akan bisa di raih jika para istri benar-
benar mau belajar mengikhlaskan pengabdiannya kepada suami hanya karena Allah
saja.
6. Jangan pernah anggap
diri kita sebagai pelayan ketika melayani suami. Melayani bukan berarti kita
menjadi pribadi nomer 2 yang harus tunduk dan patuh dalam perintah seorang
suami. Namun dengan melayani justru akan membuat kita merasa jadi pribadi yang
selalu dibutuhkan dan kehadiran kita akan menjadi suatu hal yang sangat ditunggu- tunggu karena menjadi penopang wajib
dari yang dilayani. Itulah makna sebenarnya dari kata disayang atau dicintai.
7. Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru untuk suami, janganlah beranjak tidur lebih dulu dari sang suami,
kecuali kalau dirasa sangat perlu.
8. Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya seorang istri tidak menunggu agar sang suami meminta ma’af terlebih dahulu (jangan jadikan hal ini sebagai prioritas utama harapan istri) kecuali jika suami
secara sadar mengakui kesalahannya.
SUMBER: http://www.smbcumrohhaji.co.id/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar